SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH      SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH

Rapat Koordinasi Pemantauan Pelaksanaan Eradikasi Schistosomiasis Tahun 2018

Ditayangkan: Jumat, 14 September 2018

Acara Rapat Koordinasi Pemantauan Pelaksanaan Eradikasi Schistosomiasis Tahun 2018 dilaksanakan pada hari Kamis, 13 September 2018 bertempat di ruang Nagana Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, yang dihadiri oleh Kepala Bapelitbangda Kabupaten Poso, Kepala Bapelitbangda Kabupaten Sigi, Kepala Balitbangkes Kabupaten Donggala, Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Tim Asistensi Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Tim Terpadu Pengendalian Schistosomiasis Provinsi Sulawesi Tengah, dan Pejabat eselon III dan IV lingkup Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah. Acara ini bertujuan untuk membangun komitmen bersama lintas sektor dan masyarakat dalam melaksanakan eradikasi penyakit schistosomiasis yang tersebar di dua kabupaten Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu; 1) Kabupaten Poso dan 2) Kabupaten Sigi.

Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah Prof. Dr. rer.pol. Patta Tope, SE membuka sekaligus memberikan sambutan. Dalam sambutannya mengatakan bahwa schistosomiasis atau penyakit demam keong salah satu penyakit tropis terabaikan (neglected tropical disease). Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing darah schistosoma japonicum merupakan daerah endemis yang cukup lama kurang lebih dari 80 tahun sampai pada pertengehan tahun 2017. Penyakit ini terdapat pada 23 desa, di dua kabupaten Provinsi Sulawesi Tengah yaitu pada Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi atau lebih spesifiknya Kecamatan Lore Utara, Lore Timur, Lore Peore, Lore Tengah dan Lore Barat (Napu, Besoa dan Bada) untuk Kabupaten Poso. masih berkisar antara 0 sampai 2,15%, dan Kecamatan Lindu untuk Kabupaten Sigi.

Kondisi ini dipengaruhi oleh masih tingginya prevalensi pada hewan ternak, penanganan fokus (habitat keong perantara) yang masih terbatas, belum terintegrasinya pengembangan layanan air minum dan sanitasi layak dalam upaya pencegahan resiko penyakit, belum maksimalnya pemberdayaan masyarakat serta peran para pemangku kepentingan di tingkat desa sebagai garda terdepan dalam pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian schistosomiasis. Lebih lanjut beliau mengatakan salah satu bentuk komitmen bersama lintas sektor dan masyarakat adalah tersusunnya roodmap yang bertujuan sebagai acuan perencanaan, penganggaran, dan evaluasi capaian tahunan bagi setiap institusi yang terlibat di tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan desa sebagai wujud bersama dalam mengentaskan schistosmiasis di Indonesia. Dalam roodmap pentahapan menuju eradikasi mengenal tiga tahap penyusunan yaitu; 1) tahap penyusunan akselerasi Tahun 2018-2019, 2) tahap penyusunan memelihara prevalensi 0% Tahun 2020-2024, dan 3) tahap penyusunan verifikasi dan deklarasi eradikasi Tahun 2025 setiap tahapan memiliki target tertentu dan intervensi kunci. Target dan intervensi kunci di setiap tahap ini selanjutnya menjadi panduan formulasi paket kegiatan tahunan.

Paparan kedua disampaikan oleh Kepala Bapelitbangda Kabupaten Sigi, Drs. Sutopo Sapto Condro, MT dalam paparannya menjelaskan bahwa penyakit schistosomiasis merupakan agenda prioritas yang perlu dientaskan di Kabupaten Sigi khususnya Kecamatan Lindu. Dari aspek kesehatan danau lindu mempunyai makna tersendiri, karena sejak tahun 1930-an telah ditemukan penyakit schistosomiasis yang endemic melanda penduduk yang menghuni kawasan sekitar danau lindu. Penyakit schistososmiasis sering disebut juga demam lindu karena sifatnya endemik. Korban yang terserang penyakit ini mungkin masih bisa hidup bertahun-tahun setelah pertama kali terinfeksi cacing parasit akan membuat tubuh terus menerus melemah dan kemudian meninggal diakibatkan karena daya tahan tubuh yang sudah sangat rapuh.

Ada 4 tantangan dalam melaksanakan eradikasi schistosomiasis yaitu; 1) Mendamping dan men-supervisi pemanfaatan dana desa/APBDesa untuk mendukung eradikasi schistosomiasis melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD), 2) Mengalokasikan kegiatan pembinaan pendukung pengelolaan ternak dan lahan pertanian perkebunan penduduk, 3) dan menyediakan atau memelihara infrastruktur bagi penanganan lokasi area yang dibuat oleh dinas Pekerjaan Umum (PU), 4) Mempercepat pemenuhan akses air minum, perubahan perilaku serta sanitasi melalui dinas PU dan dinas Kesehatan.

Paparan ketiga disampaikan oleh Kepala Balai Penelitian Pembangunan dan Pengembangan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Kabupaten Donggala, Muhamad Faozan, S.KM.,M.PH pada paparannya menjelaskan tentang riset etnografi di desa tomehipi, Kabupaten Poso sesuai hasil penelitian di lapangan ada 6 faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit schistosomiasis antara lain; 1) Info tentang schistosomiasis masih minim, 2) Penetapan desa tomehepi sebagai daerah endemis schistosomiasis membuat warga marah, karena semakin terasing dari pendatang, 3) Segala kegiatan terkait schistosomiasis dipandang warga sebagai proyek dari kesehatan, 4) POPM dianggap sebagai teror karena dapat menyebabkan pusing dan mual sehingga di opname, 5) Masyarakat sensitif karena janji yang tidak dipenuhi melalui pengadaan sepatu boot, dan 6) Semangat masyarakat untuk eliminasi schistosomiasis tinggi.

Untuk rekomendasi hasil etnografi melakukan beberapa cara antara lain; 1) Sosialisasi schistosomiasis secara holistik di semua level masyarakat, 2) Menghindari janji, 3) Melibatkan masyarakat dalam setiap kegiatan kesehatan schistosomiasis, 4) Perlu melakukan pembuatan Peraturan Desa dan adanya keterikatan melalui hukum adat desa setempat, 5) Perlu pendekatan yang berbeda antara satu desa dengan desa yang lain sesuai karakteristik setiap desa, dan 6) Potensi desa dapat dipakai untuk menunjang kegiatan schistosomiasis.    

Paparan keempat disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, Ir. Periskila Sampeliling, M.Si dengan judul “Pemataan Fokus Keong Penular Schistosomiasis di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi” dalam penjelasannya mengatakan schistosomiasis adalah jenis penyakit yang langka bagi kesehatan, karena schistosomiasis hanya terdapat pada daerah endemis yaitu dataran tinggi napu, dataran tinggi bada Kabupaten Poso, dan dataran tinggi lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu kawasan konservasi yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah dengan luas wilayah 215.733,70 ha, yang ditetapkan Menteri Kehutanan Nomor 869/Menhut-II/2014. Hasil survei fokus keong oleh Balitbang P2B2 Kabupaten Donggala berada di kawasan zona pada aliran air yang diduga sumbernya berasal dari zona rimba dan zona inti di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Tujuan dari pemetaan tersebut adalah untuk memetakan daerah fokus keong Oncomelania Hupensis Lindoensis sebagai perantara schistosomiasis di kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang berada di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, dan bermanfaat sebagai data dasar Balai Besar Taman Nasonal Lore Lindu dalam melakukan kegiatan pengendalian fokus keong perantara schistosomiasis di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. 

Paparan kelima disampaikan oleh Kepala Bidang P2BL Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Muhamad Saleh Amin dalam paparannya menjelaskan cara melakukan pengobatan masal dimana untuk mencapai eradikasi lebih lanjut diperlukan kerjasama lintas sektor dan masyarakat yang merupakan pelaku kunci dalam upaya pelaksanaan eradikasi,schistosomiasis. Untuk pengobatan penyakit schistosomiasis Dinas Kesehatan Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi untuk memberikan obat kepada seluruh penderita penyakit endemis untuk menunjang pemeriksaan bagi penderita “demam keong”. Pencegahan dan pengobatan penyakit schistosomiasis dapat dilakukan lebih fleksibel karena menjadi tanggung jawab dimasing-masing wilayah Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi yang diakibatkan penyakit demam keong.

Pin It
Dilihat: 198